Box Layout

HTML Layout
Backgroud Images
Backgroud Pattern
blog-img-10

Posted by : Administrator

Dua Pasien, Gejala Sama, Kasus Berbeda

Penting bagi praktisi mengambil hikmah dan pelajaran dari pengalaman kasus-kasus ini.

Seorang pasien wanita dari Karanganyar – Jawa Tengah kerap mengeluhkan sakit kepala, pusing, dan pelupa. Ia sering lupa apa yang sedang dikerjakannya, bahkan apa yang baru saja ingin ia lakukan. Meski sudah berobat ke berbagai dokter, hasilnya tetap tidak signifikan.

Tanpa disengaja, wanita ini menemukan sebuah brosur tentang Ruqyah Masal. Ia pun tertarik untuk mengikuti acara tersebut. Sejak masuk ruangan, sudah tampak tanda-tanda aneh pada dirinya: wajah pucat, rasa mual, dan gelisah. Saat prosesi ruqyah dimulai, dialah yang pertama kali bereaksi, muntah-muntah hingga akhirnya kesurupan.

Inti dari kasusnya adalah: jin-jin di dalam tubuhnya seringkali membawa sukma pasien keluar dari jasadnya, berpindah ke tempat-tempat seperti gedung kosong, hutan, atau lokasi lain. Setelah prosesi ruqyah selesai, ia maju untuk ditangani secara pribadi. Dengan izin Allah, tindak lanjut ruqyah dan olah hati berhasil menuntaskan kasusnya. Sejak saat itu, pusingnya hilang total dan kehidupannya kembali normal.

Hikmah:

Kisah ini mengajarkan bahwa tidak semua sakit kepala atau gangguan daya ingat semata-mata bersifat medis. Ada kalanya gangguan tersebut berasal dari faktor ruhani, khususnya intervensi jin yang menyerang atau memanipulasi sukma. Maka, ruqyah menjadi salah satu wasilah penting yang harus tetap dihidupkan oleh para praktisi.

Kisah Kedua: Praktisi dari Bondowoso

Seorang praktisi dari Bondowoso menghadapi kasus unik: paman istrinya mengalami linglung parah. Banyak praktisi lain mengatakan bahwa sukmanya sudah tidak berada di tubuhnya. Gejalanya: pasien lupa total pada istri dan anak-anaknya, bahkan berbicara pun sudah ngelantur.

Praktisi ini mencoba dengan ruqyah standar, lalu menambahkan teknik khusus seperti tarik sukma. Namun, hasilnya nihil. Pasien tetap linglung. Melihat pasien sering memegang kepalanya, praktisi curiga ada sesuatu yang lebih dalam. Ia pun menyarankan pemeriksaan medis.

Hasil CT Scan menunjukkan adanya kelebihan cairan di otak yang harus segera ditangani dengan operasi. Keluarga menyetujui, dan dokter melakukan prosedur penyedotan cairan. Subhanallah, beberapa minggu setelah operasi, pasien mulai pulih: memorinya kembali, ia bisa berbicara lancar, bahkan sempat menceritakan pengalamannya ini langsung di hadapan saya.

Hikmah:

Kisah ini menjadi pengingat berharga bagi praktisi: tidak semua yang tampak seperti gangguan ruhani benar-benar murni gangguan jin. Ada kalanya faktor medis justru menjadi penyebab utama. Maka seorang praktisi ruqyah harus bijak dan proporsional: memadukan antara ikhtiar syar’i dan ikhtiar medis, tidak gegabah men-judge bahwa semua kasus adalah jin atau sukma.

Pelajaran besar bagi praktisi :

1. Jangan tergesa menvonis.
Perlu kemampuan membedakan antara gangguan murni ruhani dan gangguan medis.

2. Ruqyah ialah jalan, bukan tujuan.
Kesembuhan tetap dari Allah ruqyah hanyalah wasilah.

3. Sinergi dengan dunia medis.
Praktisi ruqyah tidak boleh anti terhadap dunia kedokteran, justru harus saling melengkapi.

4. Kasus sukma harus hati-hati.
Ada yang benar-benar karena jin, ada pula yang karena kelainan organik pada otak.

5. Hikmah spritual.
Allah menguji manusia dengan berbagai cara, agar hamba-hamba-Nya kembali kepada-Nya dan semakin yakin bahwa semua penyakit, baik ruhani maupun jasmani, hanya Allah yang Maha Menyembuhkan.